Menurut cerita dari sang sopir, ini bisa terjadi karena pajak warga dimanfaatkan untuk pembangunan secara menyeluruh. Rapinya jalan karena setiap beberpa kilometer ada kamera pengintai terekam oleh Polisi standby ditiap posnya. Lain dari itu wajib militer membuat mereka menjadi tertib dengan sendirinya. Oya dikampus republic polytechnic ada himbauan (bukan larangan) menggunakan rok/celana wanita yang baik. Bagaimana tidak, sudah jadi kebiasaan warga sana bahwa pakaian baik atas maupun bawah yang dikenakan sangat mini. Ungkapan Rasulullah yang sering kami dengungkan yaitu “Akan datang masa dimana wanita berpakaian tapi telanjang” sudah sangat biasa terjadi di Negara singa ini dan kebanyakan wanita sudah demikian. Ah kapan-kapan saya mau ungkap masalah ini, karena saya sangat menghormati wanita yang mejaga auratnya dan saya sangat membenci wanita murahan yang mengumbar tubuhnya demi sensasi atau uang.
Malam harinya kami menghabiskan waktu untuk sekedar wisata atau belanja, ya 5 hari kami puaskan malamnya dengan jalan-jalan, karena paginya tugas. Malam pertama tempat yang kami kunjungi adalah wilayah Orchad, somerset, kerajaan dan newton. Sepanjang jalan kami lalui bersih sekali, yang ada ditempat remang-remang warga lokal yang masyuk dalam maksiat mereka tanpa peduli orang lewat.
Hari ketiga saya kurang sehat, sariawan 10 titik, disaat teman-teman dari negara lain bergembira makan-makan di MarinaBay yang ada saya menahan sakit. Kami ke Raffles City, War Memorial, Esplanade Theater, Food Republic dan Merlion Park. Kenapa tidak ke Singapore Flyer atau G-Max, walah kaki sudah capek lagipula sariawan ini begitu mengganggu.
Hari keempat kami belanja ke Mustafa yang sangat lengkap sebagai gudang belanja, meski boleh dikata harga disana lebih mahal dari pada di Bugis atau Kampong Glam. Dari situ kami keliling ke daerah Little India yang banyak menjajakan wanita India sebagai penghibur karaoke. Sebagaimana daerah-daerah lain, perkumpulan India identik dengan kekumuhan, lihat saja sudah semrawut dan kotor. Segala macam pernak-pernik berbau Singapura bisa anda beli disini dan kalo boleh saya bilang sebagian besar produk tersebut berasal dari Indonesia lho. Mau bukti? Cek aja sendiri, ada cap kecil pekalongan, yogya dan sebagainya. Tapi namanya oleh-oleh ya nggak masalah :. Selain itu, diwilayah ini terdapat banyak sekali sinetron Indonesia dalam bentuk DVD atau film Indonesia yang juga dibajak. Hehehehe bagaimana rasanya dibajak bung?
Semua sudut jalan sudah kami lalui dan kelelahan tiada kira mengajak kami untuk kembali ke Hotel. Dari Lavender kami pulang menuju Somerset, entah karena kelelahan atau lupa, saya meninggalkan pernak-pernik yang dibeli oleh teman dan saya sendiri didalam MRT. Meski nilainya tidak begitu banyak, namun kelelahan saja yang membuat saya sebal akan kejadian ini. Istilahnya sudah jauh-jauh kok ya ketinggalan.
Esok paginya saya berangkat tugas dengan kondisi lunglai, panas dingin dan perih dimulut. Rasa tidak nyaman ketika berbincang-bincang dengan rekan-rekan dari Malaysia, Thailand, Philiphina, Singapore dan Vietnam. Meski ketika saya tampil cukup meyakinkan team dari jerman dan India, namun kondisi ini membuat saya serasa loyo.


Kesabaran saya masih ada kok, sehabis dari pintu keluar tersebut saya agak bingung dengan pintu keluarnya. Saya menanyakan kepada petugas di sekitar mall, arah ke MRT, seorang polisi wanita berwajah India langsung betanya “you Indon?” saya jawab “I am not indon but I am from Indonesia”. Dia pun menunjukkan jalannya, sampai di stasiun MRT saya dibingungkan dengan bagaimana cara masuknya (heheheh maklum wong ndeso) dan bagaimana cara mengambil tiket.
Setelah tiket kita dapat, langkah selanjutnya adalah masuk ke ruang MRT dengan menempelkan tiket kita ke arah mesin pintu. Dia akan terbuka jika kartu kita valid, kemudian ikuti arah tujuan MRT yang biasanya setelah pintu ada tangga berjalan turun. Begitu luas dan tersedia 3 tangga berjalan sehingga tidak perlu khawatir antrian panjang. Stasiun begitu bersih dan tidak ada satupun pedagang asongan disana. Kalo mau membayangkan MRT silahkan ingat Busway di Jakarta namun dengan jumlah pintu yang sangat banyak dengan body mirip kereta api. Bedanya menggunakan pintu otomatis tanpa petugas jaga yang harus mengatur penumpang. Penumpangnya sendiri kalo diperhatikan sangat tertib tidak ada yang berebutan seperti di busway atau kereta-api di Indonesia. Kalo datang belakangan tidak lari dan akan menunggu MRT berikutnya, rata-rata 20 menit. Yang diperlukan adalah perhatian kita pada arah peta jalur MRT, jangan sampai kita keliru ke arah yang salah. Karena disetiap lajur hanya ada 2 yang berbeda sisi dan saling berlawanan. Caranya kita lihat arah penunjuk dipintu masuk MRT, arah penunjuk itu menandakan akhir tujuan, menyesuaikannya kita harus lihat peta yang dipajang di sebelah tempat duduk, dijamin nggak bakal nyasar deh.
Rasa kagum itu tidak ada habisnya ketika kita masuk kedalam MRT, bukan karena ketika itu saya diapit 2 wanita cantik dengan celana sexy, namun karena bersih, minim getaran, suara informasi stasiun jelas dan display informasi MRT yang kecil namun terlihat jelas. Sampai di Dhoby Ghaut saya turun, bermaksud keluar dari stasiun tersebut dengan panduan tanda exit yang terpampang jelas. Saya ikuti arahnya kemanapun ada tanda exit, sejenak saya curiga karena ternyata exit itu banyak sekali dan saya hanya berputar-putar saja tidak keluar. Bertanya kepada petugas kebersihan disana, dia hanya bisa mandarin, bertanya kepada petugas stasiun, malah ditunjukkan ke arah MRT. Ya udah akhirnya saya cari akal yaitu menunggu kereta berikutnya datang, mengikuti orang yang keluar dan ketemu…ketemu… ketemuuu teriak saya dalam hati. Keluar dari stasiun Dhoby Ghaut saya abadikan dengan mengambil gambar disana, setelah itu baru beranjak ke Orchad Road. Sampai di Hotel Grand Central saya dalam kondisi yang sangat lelah lagi mengantuk.
When we have any problem consist in our credit, such an embrrassing mess or some bad history of background that can breakdown our approvment. Get a lot oh frustration because our credit history will stick forever, or it takes to clean up. But how to improve your existing positive
Optimise your e-mail experience with the Nokia E71 (code name LIAM), built to keep your work and free time as integrated or separate as you like with customisable business and personal modes. Improve efficiency with greater portability, one-touch keys and go places with built-in A-GPS and Nokia Maps.
Sweet online casino games when we entering
Komentar Terakhir