Mendekatkan Diri
By pututik on Aug 22, 2006 with Comments 0
Masa berganti dan terus mengurangi usia, semakin medekatkan kematian diujung Malaikat pencabut nyawa. Rupanya masa lalu telah berlalu dan tidak akan pernah kembali, yang ada adalah hari ini entah esok hari. Rasa itu ada namun enggan merasakannya, nikmat itu ada namun malas melaksanakannya, sejuk itu ada namun panas memancar ditelinga dan semangat itu ada namun lelah setan memanggulnya. Yah, sebulan berlalu aku mendekatkan diri mencari apa yang menghalang semua ini. Sore, malam dan pagi saksi cahaya hati yang meredup namun kucoba membuatnya semakin terang. Sedang siang adalah aktifitas mencari duniawi yang menyeimbangkan raga ini dalam rangka menggapai cahaya hati. Kuhabiskan sebagian waktuku untuk belajar dunia dan akhirat, semata karena tunduk patuh kepada sang Khalik penguasa alam semesta dan Maha Sempurna.
Ujian dunia saat ini ketika masa menuntunku menjadi pengganti tampuk kepemimpinan sementara, ternyata begitu banyak godaan, cobaan dan ilmu disana. Ada yang memberi masukkan, ada yang merasa keberatan, ada yang merasa acuh, ada yang merasa pintar, ada yang terbebani, ada yang was-was, ada yang diam saja dan ada ilmu disana. Sesuatu yang tidak baru bagiku, namun sulit karena terlalu banyak kepentingan pribadi disini bercokol bagaikan karang menjulang tinggi dan bagaimana mengatasinya itulah ilmu. Tanpa pengetahuan mengatasinya adalah mustahil, dan mengandalkan ketimpangan adalah kesalahan besar yang merusak hadirnya ilmu itu sendiri. Menilai dengan arif, memutuskan dengan bijaksana dan bertutur dengan santun adalah suatu ilmu yang ingin kudapatkan. Dengan Al Qur’an aku mendapatkan kenapa menjadi pemimpin tidak mudah dan dengan Al Hadist kutemukan penjelasan bagaimana pertanggung jawaban pemimpin di yaumul Hisab. Itulah pekerjaan dengan resikonya, koridor ini harus tetap kulakukan meski hanya sementara namun hisab pasti tiba. Aku hanya takut menjadi orang munafik saat menjadi pemimpin, karena ini akan membuat ibadahku sia-sia dan amalku tiada guna. Ketakutan hanya membuat keterpurukan, cahaya hatiku harus semakin benderang agar Alloh semakin memberikan jalan kemudahan dan kemuliaan.
Ujian akhirat adalah ketika memperhatikan keberadaan istri dan anakku, mereka akan meminta pertanggung jawabanku dihadapan Alloh SWT. Apa saja dan bagaimana aku menafkahi mereka, membimbing ke jalan Alloh, keadilan dan masih banyak lagi. Di Masjid, aku mendapatkan ilmu bagaimana arif dan adil terhadap mereka. Tengadah tanganku sambil berucap “Ya Alloh, limpahkanlah rizki yang halal bagi keluarga kami dan tunjukillah kami kemudahan kebenaran”. Semua akan mendatangkan ilmu, duh Gusti Illahi ijinkan hamba semakin mendekatkan diri kepadamu Ya Alloh.
Ujian dunia saat ini ketika masa menuntunku menjadi pengganti tampuk kepemimpinan sementara, ternyata begitu banyak godaan, cobaan dan ilmu disana. Ada yang memberi masukkan, ada yang merasa keberatan, ada yang merasa acuh, ada yang merasa pintar, ada yang terbebani, ada yang was-was, ada yang diam saja dan ada ilmu disana. Sesuatu yang tidak baru bagiku, namun sulit karena terlalu banyak kepentingan pribadi disini bercokol bagaikan karang menjulang tinggi dan bagaimana mengatasinya itulah ilmu. Tanpa pengetahuan mengatasinya adalah mustahil, dan mengandalkan ketimpangan adalah kesalahan besar yang merusak hadirnya ilmu itu sendiri. Menilai dengan arif, memutuskan dengan bijaksana dan bertutur dengan santun adalah suatu ilmu yang ingin kudapatkan. Dengan Al Qur’an aku mendapatkan kenapa menjadi pemimpin tidak mudah dan dengan Al Hadist kutemukan penjelasan bagaimana pertanggung jawaban pemimpin di yaumul Hisab. Itulah pekerjaan dengan resikonya, koridor ini harus tetap kulakukan meski hanya sementara namun hisab pasti tiba. Aku hanya takut menjadi orang munafik saat menjadi pemimpin, karena ini akan membuat ibadahku sia-sia dan amalku tiada guna. Ketakutan hanya membuat keterpurukan, cahaya hatiku harus semakin benderang agar Alloh semakin memberikan jalan kemudahan dan kemuliaan.
Ujian akhirat adalah ketika memperhatikan keberadaan istri dan anakku, mereka akan meminta pertanggung jawabanku dihadapan Alloh SWT. Apa saja dan bagaimana aku menafkahi mereka, membimbing ke jalan Alloh, keadilan dan masih banyak lagi. Di Masjid, aku mendapatkan ilmu bagaimana arif dan adil terhadap mereka. Tengadah tanganku sambil berucap “Ya Alloh, limpahkanlah rizki yang halal bagi keluarga kami dan tunjukillah kami kemudahan kebenaran”. Semua akan mendatangkan ilmu, duh Gusti Illahi ijinkan hamba semakin mendekatkan diri kepadamu Ya Alloh.
Related Article
Filed Under: My Family
About the Author: Saya hanyalah seorang pekerja biasa, memiliki keahlian di bidang elektronik praktis dan Nokia Mobile Phone, founder PUTUTIK NETWORK, sebagai kuli IT di salah satu perusahaan swasta, berpengalaman sebagai staff pengajar, peneliti teknologi SEO dan optimasi website, hobby online earning dan menulis.

